Tuesday, January 27, 2026

Riset Pasar Timor-Leste (2021–2025) untuk Strategi BNF

UMKM (Micro, Kecil, dan Menengah): Ekonomi Timor-Leste sangat didominasi usaha kecil, khususnya di sektor perdagangan eceran, katering, dan konstruksi. Sebagai contoh, survei nasional 2022 melaporkan 66% usaha berada di sektor perdagangan & konstruksi[1], dan sektor ritel/wholesale menyerap tenaga kerja terbesar (19.500 orang) dengan output US$1.15 miliar[2]. Sebagian besar pelaku UMKM informal (pedagang kaki lima, petani kecil) sulit mengakses pembiayaan formal. Bank BNF perlu menyiapkan produk mikro-kredit dan pelatihan akuntansi sederhana (seperti inisiatif BCTL Basic Accounting Training untuk MSME[3]) untuk menarik segmen ini. Pembentukan dan pendukung koperasi agribisnis juga penting untuk melayani UMKM di sektor pertanian.

 Riset Pasar Timor-Leste (2021–2025) untuk Strategi Bank

Pertanian & Koperasi: Meskipun menyumbang sebagian kecil GDP (sekitar 10–15% menurut sumber World Bank dan pemerintahan[4]), pertanian menjadi sumber pendapatan utama bagi 40% tenaga kerja negara[5]. Tanaman utama (padi, jagung, kopi) dan perikanan berskala kecil mendominasi. Pemerintah mendukung koperasi pertanian (mis. pupuk bersama, kelompok tani) untuk meningkatkan skala usaha petani. BNF dapat memfokuskan kredit tani dan modal kerja koperasi, mengingat kebutuhan modal musiman (tanam/panen). Pembiayaan alat pertanian dan teknologi irigasi bisa menjadi peluang strategis. Data resmi rinci terbatas, namun Bank Dunia dan BCTL menyoroti pentingnya diversifikasi ekonomi dari sumber daya minyak ke sektor produktif seperti pertanian (IMF mendorong reformasi agribisnis[6]).

Aparatur Negara & Dana Sosial: Sektor publik cukup besar di Timor-Leste. Pemerintah dan entitas negara mempekerjakan signifikan bagian penduduk (melalui pegawai negeri, militer, polisi) dan mengelola program bantuan sosial (subsidi, tunjangan keluarga, beasiswa). Contohnya, IMF mencatat perlunya pengekangan pengeluaran upah pegawai demi keberlanjutan fiskal[7]. Strategi BNF dapat menarget penabung dan peminjam di kalangan pegawai negeri (gaji rutin) dan penerima bantuan sosial. Misalnya, BCTL telah melisensikan produk Ha’u-Nia Futuru (tabungan anak-anak)[8]. BNF bisa mengembangkan tabungan khusus pegawai negeri (auto-debit gaji), dan kredit lunak untuk pembelian rumah atau pendidikan tenaga pendidik. Kerja sama dengan lembaga sosial negara (penyalur dana bantuan) juga mempermudah penetrasi perbankan.

Perdagangan & Jasa: Sektor perdagangan (grosir/eceran) dan jasa mendominasi ekonomi non-migas. Layanan keuangan, transportasi, telekomunikasi, serta pariwisata kecil-kecilan tumbuh, namun retail lokal masih konvensional. Jumlah outlet ritel sangat banyak (warung, toko kelontong); ini berarti potensi pembukaan rekening bisnis mikro besar. Layanan jasa (perhotelan, restoran) juga berkembang seiring stabilnya situasi politik. BNF dapat melayani sektor ini dengan fasilitas modal kerja, KUR mikro, dan pembiayaan ekspansi gerai. Peningkatan e-commerce (dukungan UNCTAD), dan penetrasi digital (lihat segmen muda) menjadi peluang untuk layanan pembayaran digital bagi pebisnis kecil dan pengecer[9].

Segmen Pemuda & Digital: Timor-Leste memiliki populasi pemuda (median umur 21 tahun; usia 15–24 26% populasi[10]). Penetrasi internet dan ponsel tumbuh cepat: per awal 2024, 54% penduduk (742 ribu orang) menggunakan internet[9] dan koneksi seluler aktif melebihi 100% populasi. Penggunaan media sosial sudah mencapai 42%. Ini berarti digital banking berpotensi besar. BNF perlu fokus segmen ini dengan layanan perbankan digital (mobile banking, e-wallet, pembayaran QR, kartu debit) dan produk tabungan/pendidikan keuangan anak muda (mis. tabungan pendidikan, aplikasi budgeting). Masyarakat muda cenderung adopsi fintech; BCTL juga mendorong pengembangan ekosistem fintech[11]. Strategi pemasaran harus memanfaatkan saluran online dan literasi digital (mengikuti program literasi keuangan BCTL[12]) untuk menjangkau milenial dan gen-Z.

Indikator Keuangan dan Ekonomi Makro: Per September 2025, BCTL melaporkan GDP Timor-Leste dan statistik perbankan utama sebagai berikut:

Indikator

Nilai Terkini

Sumber

Populasi ber-REKENING BANK (dewasa)

565.000 orang (64% populasi dewasa, 2022)[13]

Laporan Inklusi Keuangan BCTL

Akun tabungan (#)

681.802 (deposit accounts, 2022)[14]

Laporan Inklusi Keuangan BCTL

Jumlah simpanan (M2)

US$1,250 juta (2023)[15]

BCTL (publikasi resmi)

Jumlah kredit bank

$440 juta (2023)[15]

BCTL (grafik sektor)

Jenis kredit dominan

Konsumtif/individu (~58% kredit)[15]

BCTL (grafik sektor)

Pertumbuhan PDB

2021:+2.9%; 2022:+4.0%[16]; 2023:+1.5%[17] (non-migas)

Datasets Resmi (NSO/IMF)

Pertumbuhan aset sektor perbankan

2022→23: +4.5% (US$2.335→2.441miliar)[15]

Laporan BCTL

Pertumbuhan kredit perbankan

2022→23: +22% (US$361.6→439.9 juta)[15]

Laporan BCTL

Tingkat inklusi keuangan: Menjelang akhir 2022, sekitar 564.846 orang dewasa telah menjadi nasabah bank (sekitar 64% populasi usia kerja)[13]. Jumlah rekening tabungan (deposit) mencapai ~681.802 buah, sedangkan rekening kredit 79.770[14]. Angka inklusi ini melonjak 27% sejak 2020, mencerminkan upaya inklusi oleh BCTL (mis. program agen bank, fintech).

Simpanan dan kredit nasional: Total uang beredar sekitar US$1,247 juta pada 2023[15] (sebagian besar berupa simpanan giro/tabungan). Kredit perbankan hanya sekitar US$440 juta (akhir 2023) – kurang dari setengah total simpanan[15]. Dari komposisi kredit, sektor individual/rumah tangga (konsumsi, usaha kecil) menyerap porsi terbesar (58% dari kredit bank)[15], diikuti sektor perdagangan/jasa (14%) dan pertanian (13.5%). Kredit untuk koperasi relatif kecil (0.1%).

Pertumbuhan ekonomi vs sektor perbankan: Perekonomian Timor-Leste pulih dari kontraksi COVID: PDB tumbuh +2.9% (2021) dan +4.0% (2022)[16], lalu melambat ke sekitar +1.5% pada 2023 karena perlambatan belanja publik pasca-pemilu[17]. IMF memproyeksikan pertumbuhan rebound +3.5% (2024) hingga +3.9% (2025)[18][19]. Sementara itu, sektor perbankan berkembang lebih cepat: aset bank naik dari US$2.335 miliar (2022) menjadi US$2.441 miliar (2023)[15] (+4.5%), dan kredit bank tumbuh 22% selama periode itu. Pertumbuhan simpanan juga positif (M2 naik menjadi US$1.247 miliar pada 2023[15]). Dengan demikian, pangsa kredit perbankan terhadap PDB masih rendah, menandakan potensi pasar kredit yang besar.

Kesimpulan untuk strategi BNF: Data di atas menunjukkan bahwa hampir dua pertiga penduduk dewasa sudah terhubung ke sistem perbankan[13], tetapi penetrasi UMKM dan sektor pertanian masih rendah. Bank BNF sebaiknya menargetkan produk mikro-kredit, kredit usaha tani, dan pembiayaan konsumsi bagi rumah tangga muda/petani. Kolaborasi dengan koperasi dan program sosial pemerintah dapat meningkatkan inklusi. Di sisi simpanan, segmentasi pegawai negeri dan nasabah muda digital (yang sudah aktif online 50% penduduk[9]) merupakan pangsa pasar yang menjanjikan. Akhirnya, pertumbuhan perbankan yang mengungguli PDB[15][17]menandakan peluang besar bagi BNF untuk memperdalam layanan keuangan di semua segmen tersebut.

Sumber: Bank Sentral Timor-Leste (laporan tahunan dan inklusi keuangan)[13][15]; IMF/World Bank/TL Biro Statistik (data PDB dan sektor)[16][17]. Semua angka di atas mengacu pada data resmi periode 2021–2025.


[1] [PDF] Enterprise & Skills Survey Report 2022 - Governo de Timor-Leste

https://timor-leste.gov.tl/wp-content/uploads/2022/12/Enterprise-Skills-Survey-Report-2022_compressed.pdf

[2] COVER BAS2022

https://inetl-ip.gov.tl/wp-content/uploads/2023/09/Pub_BAS_English-2022-2.pdf

[3] [11] [12] GDP

https://www.bancocentral.tl/en/go/gdp

[4] Economy of Timor-Leste - Wikipedia

https://en.wikipedia.org/wiki/Economy_of_Timor-Leste

[5] Timor-Leste: Economy - globalEDGE

https://globaledge.msu.edu/countries/timor-leste/economy

[6] [19] Democratic Republic of Timor-Leste: 2025 Article IV Consultation-Press Release; Staff Report; and Statement by the Executive Director for the Democratic Republic of Timor-Leste; IMF Country Report No. 25/278; August 25, 2025

https://www.imf.org/-/media/files/publications/cr/2025/english/1tlsea2025001-source-pdf.pdf

[7] [17] [18] IMF Executive Board Concludes 2023 Article IV Consultation with Timor-Leste

https://www.imf.org/en/news/articles/2024/02/27/pr2459-timor-leste-imf-exec-board-concludes-2023-art-iv-consult

[8] [13] [14] bancocentral.tl

https://bancocentral.tl/uploads/documentos/documento_1744073183_7208.pdf

[9] [10] Digital 2024: Timor-Leste — DataReportal – Global Digital Insights

https://datareportal.com/reports/digital-2024-timor-leste

[15] Evolusaun kresimentu ekonomia 2018-2024

https://devpolicy.org/pdf/website/TLGovernor.pdf

[16] 1 Cover - 8/2023

https://inetl-ip.gov.tl/wp-content/uploads/2023/09/TL-NA-2022-Publication.pdf

"Building a Sustainable National Bank: Research Flows, Strategy Formulation, Business Models, and Integrated Planning"

 

"Building a Sustainable National Bank: Research Flows, Strategy Formulation, Business Models, and Integrated Planning"

By: Carlos Soares Ribeiro

✉️ tomejomadio@gmail.com

https://tomejoma.blogspot.com/ 

📞 (670)73240084



Introduction

Industrial developments in developing countries are increasingly faced with complex challenges, ranging from economic volatility, changes in market structures, to demands for financial inclusion and sustainable governance. In this context, the success of a bank—especially a national bank—can no longer depend on managerial intuition or short-term planning practices. A systematic, evidence-based, and integrated planning process is needed that is able to bridge macroeconomic dynamics with the real needs of the real sector.

One of the relevant and visionary approaches is the process flow starting from national Market Research, followed by strategy formulation, Business Model development,  preparation of Bank Business Plan, and elaboration into  the Company's Work Plan and Budget (RKAP). This flow is not just a managerial technical, but a strategic framework that determines the future direction of a bank.

Market Research as the Foundation for Strategic Decisions

National Market Research is the main foundation in long-term oriented bank planning. Through the analysis of the national economy, the structure of the banking industry, customer characteristics, and the regulatory environment, banks gain an objective understanding of the opportunities and risks faced.

Without adequate research, bank planning risks getting stuck on assumptions that don't match market reality. Therefore, research is not only the initial stage, but also a strategic correction instrument so that banks remain relevant to the needs of the national economy and the productive sector.

Strategy formulation: Turning Data into Direction

Research results have no strategic value if they are not processed into  clear strategy formulations. At this stage, analyses such as SWOT and PESTEL serve to convert data into policy choices and development directions of banks.

The formulation of strategies determines the position of banks in the financial system: whether it is oriented to the consumptive or productive sectors, whether it focuses on financial inclusion or corporate segments, as well as how banks manage risk in a balanced manner. Thus, the strategy acts as a bridge between market reality and the institutional vision of the bank.

 

Business Model as a Framework for Value Creation

The Business Model is a practical articulation of the bank's strategy. Through this model, banks define how value is created, delivered, and captured. Elements such as value propositions, client segments, distribution channels, and revenue sources take center stage.

For national banks, a strong Business Model must reflect the local context and national development interests. This model allows banks to not only pursue profits, but also act as a catalyst for economic growth and equitable access to finance.

Business Plan as an Implementation Instrument

A bank's Business Plan translates the Business Model into a medium- to long-term operational and financial plan. This document contains product strategies, marketing plans, operational structures, risk management, and measurable financial projections.

In an academic perspective, the Business Plan serves as a tool of accountability and policy consistency. He ensures that the vision and strategy do not stop at the conceptual level, but can be implemented realistically and sustainably.

RKAP as a Discipline and Control Mechanism

The final stage of this flow is the preparation of the Company's Work Plan and Budget (RKAP). RKAP is an annual instrument that binds all bank work units to measurable targets, both in terms of financial and non-financial aspects.

Through RKAP, banks apply the discipline of planning, performance control, and risk management. The RKAP is also a means of periodic evaluation that allows dynamic adjustment of strategies in accordance with changes in economic conditions.


Closing

The flow of the bank's planning process starting from National Market Research to the Company's Work Plan and Budget (RKAP) reflects a modern banking approach that is evidence-based, strategic, and long-term oriented. For national banks, this flow is not only a managerial tool, but an institutional foundation to build a resilient, inclusive, and relevant bank for national economic development.

In the future, banks that are able to internalize this flow consistently will be better prepared to face uncertainty, maintain stability, and play a strategic role in economic transformation.

Monday, January 19, 2026

Riset by ChatGPT

 

Literasi Keuangan Digital di Timor-Leste (2020–2025)

By: Carlos Soares Ribeiro

✉️ tomejomadio@gmail.com

https://tomejoma.blogspot.com/ 

📞 (670)73240084


Abstract 
  • Survei & Statistik: Studi terbaru menunjukkan literasi finansial-digital Timor-Leste masih rendah. Survei UNCDF 2023 melaporkan skor rata-rata Digital Financial Literacy (DFL) hanya 20.47/52 (≈39%)[1]. Sekitar 70% penduduk berada di kategori literasi “sedang”, dengan kesenjangan besar antarwilayah dan antar-generasi[2]. Penetrasi finansial juga terbatas: hanya ~20% dewasa yang memiliki rekening bank dan ~10% memiliki kartu pembayaran[3]. Mayoritas transaksi keuangan masih konvensional (64–76% via ATM/cabang; hanya 3–5% via mobile banking)[4]. Kondisi digital: ~71% penduduk dewasa mengakses smartphone, tetapi hanya 52% pernah pakai internet (43% di antaranya aktif harian)[5][6]. Laporan inklusi keuangan BCTL 2020 juga mencatat 64% dewasa (kebanyakan pekerja bergaji) memiliki rekening formal[7], sementara layanan dompet digital (e-wallet) telah menjangkau 86.000 pengguna (2020) dengan 3.000 agen[8].
  • Kebijakan & Inisiatif Pemerintah: Pemerintah dan otoritas terkait menaruh perhatian pada literasi digital-finansial. BCTL meluncurkan Strategi Nasional Literasi Keuangan 2022–2027, yang secara eksplisit memasukkan literasi digital dalam program edukasi finansial[9]. BCTL juga memodernisasi sistem pembayaran nasional (ATM interoperable, koneksi e-wallet)[8], dan menjalankan kampanye edukasi (“Digital Village”, Ha’u-nia Futuru – program tabungan anak dan sekolah) untuk menumbuhkan budaya menabung sejak dini[10][8]. Pada akhir 2024 BCTL meluncurkan program literasi keuangan digital nasional dan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan agar materi ini diajarkan di sekolah[11]. Sektor lain juga aktif: Kementerian Transportasi & Komunikasi (MTC) menggelar konferensi transformasi digital (Maret 2025) yang menekankan pentingnya digital literacy di segala bidang[12]. Mitra pembangunan (UNCDF, World Bank, IMF, dll.) mendukung lewat survei dan laporan inklusi finansial[8][7], serta pendanaan program inklusi.
  • Tantangan & Peluang Lokal: Beberapa tantangan utama mencakup infrastruktur digital yang masih terbatas (rural vs kota), biaya komunikasi yang relatif tinggi, serta budaya sosial (misalnya masih banyak pengeluaran besar untuk adat/tradisi[13]) yang mengurangi kapasitas menabung. Tingkat kemiskinan dan pendidikan dasar yang rendah juga menghambat literasi. Namun, peluangnya signifikan: demografi muda Timor-Leste (median umur ~20 tahun[14]) dan kenaikan pesat adopsi fintech menunjukkan potensi literasi praktis. Misalnya, pengguna e-wallet melonjak 111% dalam dua tahun terakhir menjadi 22% penduduk dewasa (2023–2025)[15]. Pemerintah berkomitmen memperkuat inklusi finansial dan literasi digital melalui kolaborasi lintas lembaga. Dukungan internasional serta komitmen Presiden/Hakim dan legislasi yang kondusif dipandang sebagai faktor positif ke depan.
  • Ringkasan Numerik: Untuk konteks, dibandingkan negara tetangga penetrasi digital lebih rendah – hanya ~52% warga Timor-Leste pernah online[6], jauh di bawah Indonesia (~66–77%[16]), Malaysia (~97%[17]) atau Singapura (~97%[18]). Sebaliknya, literasi finansialnya pun jauh di bawah (skor indeks ~39%[1] vs Indonesia ~49.7%[19] dan Malaysia ~59.1%[20]).

Perbandingan Antar-Negara: Literasi dan Akses Digital Finansial

  • Tingkat Literasi Keuangan Digital: Indonesia dan Malaysia menunjukkan tingkat literasi finansial yang lebih tinggi daripada Timor-Leste. Survei OJK 2022 mencatat indeks literasi Indonesia ~49.7%[19] (naik dari 38% pada 2019). Malaysia melaporkan MyFLIC ~59.1% pada 2024[20] (naik ≈13% sejak 2019) meski sebuah survei 2023 menemukan hanya ~36% warga paham konsep keuangan dasar[21]. Singapura tidak menerbitkan survei nasional terbuka, namun pengamat menilai literasi finansialnya sangat tinggi, sejalan dengan tingkat inklusi hampir 100% (sebagian besar penduduk berpendidikan tinggi dan ada pendidikan finansial nasional MoneySense). Timor-Leste jauh tertinggal: skor DFL ~39%[1], dan hanya ~64% dewasa punya rekening (tertinggi di kaum bergaji)[7].
  • Akses Layanan Digital (Mobile Banking, E-wallet, Fintech): Timor-Leste masih minim infrastruktur: ~71% orang dewasa punya smartphone[5], dan penetrasi internet ~52%[6]. Bandingkan dengan Indonesia (penetrasi internet ~66–77%[16], ~127 koneksi seluler per 100 orang[22]), Malaysia (~97.4% pengguna internet[17], 129 koneksi per 100[23]), dan Singapura (~96.9% internet[18], 154 koneksi per 100[24]). Adopsi e-wallet di Indonesia sangat pesat (~92% penduduk pernah memakai e-wallet[25], contohnya GoPay, OVO), sedangkan di Malaysia penggunaan e-wallet (Touch’nGo, GrabPay, DuitNow) juga luas, dan Singapura menerapkan QR nasional (SGQR) untuk menyederhanakan pembayaran digital[26]. Timor-Leste baru sekitar 22% dewasa yang merupakan pengguna e-wallet (2025)[15], dengan masih sangat sedikit penggunaan mobile banking rutin (<5% pemilik rekening)[4].
  • Kebijakan & Edukasi Digital Finansial: Ketiga negara tetangga memiliki strategi nasional yang matang. Indonesia meluncurkan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021–2025[27] dan rutin mengadakan program literasi inklusi keuangan (misalnya Financial Literacy and Inclusion Month, edukasi kepada pengguna fintech). OJK menekankan literasi digital finansial untuk melindungi konsumen dari risiko pinjaman online ilegal dan menjaga keamanan data[27][28]. Malaysia juga memiliki NS Literasi Keuangan 2019–2023, yang digantikan oleh strategi 2.0 (2026–2030) untuk memperluas jangkauan hingga pedesaan[20][29]. BNM menjalankan MoneySense (program edukasi finansial nasional), roadshow Skuad Celik Kewangan untuk kelompok rentan, dan modul e-finansial di sekolah. Singapura juga aktif: MAS mendorong platform seperti SGFinDex (open banking data), MoneySense, dan memperkenalkan kewajiban modul literasi finansial bagi peminjam besar[30]. Berbagai inisiatif public-private partnership diterapkan di semua negara (misalnya keterlibatan bank, fintech, dan NGO dalam edukasi).
  • Tantangan Lokal: Indonesia menghadapi tantangan literasi yang masih belum merata (rural jauh tertinggal), serta maraknya penipuan dan fintech ilegal yang memerlukan edukasi konsumen lebih lanjut[28]. Malaysia cukup maju secara digital, namun tekanan biaya hidup tinggi dan percepatan digitalisasi menghadirkan tantangan baru dalam memastikan inklusi di semua segmen masyarakat[31]. Singapura memiliki masyarakat digital-savvy, tapi tetap berupaya mengedukasi kaum lanjut usia dan mengatur risiko baru (mis. kripto, pinjaman fintech) sebagai bagian dari lifelong learning. Timor-Leste menghadapi masalah unik: medan sulit dan disparitas infrastruktur; tingkat literasi dasar rendah; serta budaya ekonomi subsisten/adat (bayar denda tradisi sampai 50% pendapatan[13]) yang menghambat penggunaan produk finansial formal. Kelemahannya adalah basis data dan sosiokultural masih harus dibentuk; kelebihannya, pemerintah inklusif dan dukungan pembangunan internasional tinggi.

Indikator

Timor-Leste

Indonesia

Malaysia

Singapura

Literasi Keuangan (%)

~39 (DFL index)[1]

49.7 (2022)[19]

59.1 (2024)[20]

– (sangat tinggi)

Internet Penetrasi (%)

52[6]

66.5 (2024)[16]

97.4[17]

96.9[18]

Koneksi Seluler per 100

71 (smartphone)[5]

126.8 (2024)[22]

129.2 (2024)[23]

153.8 (2023)[24]

Pemilik Rekening Bank (%)

~20[32]

~79 (2017); naik signifikan

~85 (2020)

~98

Pengguna E-wallet (%)

22 (2025)[15]

~92[25]

(tidak tersedia)

(widespread SGQR use)

Sumber data: laporan nasional dan lembaga internasional (BCTL, OJK, BNM, datareportal, UNCDF, dll.) selama 2020–2025[1][19][20][17][18][15].


[1] [2] [3] [4] [5] [6] [32] UNCDF DFLS Report Timor-Leste 2023

https://pacificecommerce.org/wp-content/uploads/2024/03/Assessing-Digital-and-Financial-Literacy-in-Timor-Leste-2023-1_compressed.pdf

[7] [8] Unleashing the Power of Financial Inclusion in Timor-Leste - UN Capital Development Fund (UNCDF)

https://www.uncdf.org/article/6877/unleashing-the-power-of-financial-inclusion-in-timor-leste

[9] [10] bancocentral.tl

https://www.bancocentral.tl/uploads/documentos/documento_1744073183_7208.pdf

[11] [13] BCTL ingin naikkan literasi keuangan digital bagi masyarakat Timor-Leste - TATOLI Agência Noticiosa de Timor-Leste

https://id.tatoli.tl/2024/11/29/bctl-ingin-naikkan-literasi-keuangan-digital-bagi-masyarakat-timor-leste/

[12] timor-leste.gov.tl

https://timor-leste.gov.tl/?p=42395&print=1&lang=en

[14] Digital 2023: Timor-Leste — DataReportal – Global Digital Insights

https://datareportal.com/reports/digital-2023-timor-leste

[15] INFEB_2025_7(2), 304-309

https://infeb.org/index.php/infeb/article/download/1191/542/

[16] [22] Digital 2024: Indonesia — DataReportal – Global Digital Insights

https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia

[17] [23] Digital 2024: Malaysia — DataReportal – Global Digital Insights

https://datareportal.com/reports/digital-2024-malaysia

[18] [24] Digital 2023: Singapore — DataReportal – Global Digital Insights

https://datareportal.com/reports/digital-2023-singapore

[19] Indonesia’s financial inclusion index climbs to 85%: OJK - British Chamber of Commerce in Indonesia

https://britcham.or.id/indonesias-financial-inclusion-index-climbs-to-85-ojk/

[20] [31] BERNAMA - National Strategy For Financial Literacy 2.0 To Be Launched In 4Q 2025

https://www.bernama.com/en/news.php?id=2405611

[21] Financial literacy in Malaysia: challenges and opportunities | Borneo Post Online

https://www.theborneopost.com/2025/01/26/financial-literacy-in-malaysia-challenges-and-opportunities/

[25] [26] A Statistical Look at the Rise of E-Wallets and QR Codes in Asia - Telecom Review Asia

https://www.telecomreviewasia.com/news/featured-articles/13474-a-statistical-look-at-the-rise-of-e-wallets-and-qr-codes-in-asia/

[27] [28]  Siaran Pers: OJK Fokus Pengembangan Literasi Keuangan Digital

https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-Fokus-Pengembangan-Literasi-Keuangan-Digital.aspx

[29] [30] PM Anwar Ibrahim Unveils National Strategy to Elevate Financial Literacy by 2030 - Fintech News Malaysia

https://fintechnews.my/54376/financial-inclusion/malaysia-national-strategy-financial-literacy/

Parque Industrial Manatutu

  Parque Industrial Manatutu: Inísiu Transformasaun Estratéjika Ekonomia Timor-Leste Carlos Soares Ribeiro, Lic. Eco., MM || Dosente Univers...