Kalbu yang Mendengar
Di balik sunyi yang tak bersuara,
kalbu duduk — bukan untuk bicara,
melainkan mendengar:
rintik kecil nurani
yang sering ditenggelamkan bising dunia.
Bukan akal yang paling tajam,
bukan lisan yang paling fasih,
tapi kalbu yang jujur
mampu menunjuk arah
di saat gelap paling pekat.
Ia tidak menuntut kata,
hanya kesediaan untuk hadir.
Ia tak menuntut benar,
hanya kesediaan untuk jujur.
Mereka yang belajar mendengar kalbunya,
akan tahu:
cinta tak pernah teriak
dan kejujuran tak pernah berlebihan.
No comments:
Post a Comment
đź”’ Komentar kamu akan ditinjau sebelum ditampilkan. Mari berdiskusi dengan sopan dan saling menghargai.